English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, 1 June 2013

Pesan sang putra raja


Alkisah di negeri baghdad ( sekarang adalah nama kota negara irak ), ada seorang anak sedang mencari sebuah pekerjaan. Setelah beberapa hari berjalan seorang diri, ia bertemu dengan seorang kakek yang membutuhkan seorang pekerja untuk waktu tiga hari.
        Terjadilah saling tawar antara kakek dan anak tersebut, hingga akhirnya anak itu mengajukan sebuah persyaratan:
        “ bila kakek setuju, saya akan bekerja disini. Namun ada satu permintaan yang harus kakek penuhi.”
        “permintaan apa itu, nak ?” tanya si kakek.
        “begini, kek. Bila waktu sholat izinkanlah saya istirahat karena saya akan sholat. Setelah itu saya akan bekerja kembali.”
        “oh.........itu permintaanmu, nak. Kalau begitu silahkan saja.”
        “terimah kasih kek!”
        Setelah ‘itu permintaan itu diluluskan,anak tersebut bekerja di tempat
kakek. Untuk imbalanya, kakek menjanjikan memberi ubah sebesar 1 dirham setiap harinya.
        Ternyata anak tersebut rajin dan giat dalam bekerja. Setiap adzan tiba, dia istirahat dan menggunakannya untuk melaksanakan sholat. Setelah itundia meneruskan pekerjaannya tanpa mengenal lelah.
        Melihat perilaku anak itu, diam – diam kakek berjanji akan menaikkan upah kerja sebesar tiga kali lipat.
        Tiga hari telah berakhir. Kakek memanggil anak itu.
        ‘’nak,engkau telah bekerja selama tiga hari. Kakek akan memberimu imbalan. Karena engkau rajin, kakek akan memberimu 9 dirham.”
        Tapi apa kata anak tersebut??
        “terima kasih, kek! Bukan saya tidak mau menerima pemberian kakek tapi sesuai perjanjian pertama, kakek akan memberi satu dirham sehari. Maka saya hanya akan mengambil 3 dirham saja. Maaf, bila kakek tersinggung.”
        “yah, kalau itu kemauanmu, tak apalah. Lain kali kalau Aku perlu pekerja lagi, engkau akan kucari.”
        “terima kasih, kek, Assalamu’alaikum”
         Setelah beberapa minggu anak itu pergi,dan kakek memerlukan pekerja lagi. Maka dicarilah anak tersebut. Memang tak mudah mencari anak itu, tapi akhirnya ketemu juga.
        “assalamu’alaikum bagaimana, sehat nak??”
        “wa’alaikum salam,.,,. alhamdulillah, kek,Allah memberi saya kesehatan.,.,,ada apa kakek mencari saya?”
        “nak sebenarnya begini, kakek mencarimu karena kakek memerlukan pekerja, bagaimana, bersedia??”
        “kakek, kebetulan saya sedang mencari pekerjaan. Tapi sanggupkah kakek dengan syarat yg saya ajukan?”
“syarar apa, nak?” tanya kakek
“begini kek.,.,pertama, kalau tiba waktu dzuhur, saya minta diantar kerumah. Kedua, kalau saya meninggal, kuburkan memakai kain kafan ini” tanyanya sambil memperlihatkan kain kafan.
        Perkataan anak tersebut membuat kakek terheran-heran.
        “nanti dulu, nak! Bagaimana kau ini? Bekerja saja belum. Kok memikirkan mau meninggal segala”?
        “Dan tolong kakek ingat amanat saya ini.di saku baju saya, ada berlian bermata hijau.sampaikan berlian ini kepada raja harun Ar-Rasyid sekalian pesan saya beikut ini:Hai Raja Harun Ar-Rasyid! Hati-hati jangan tergoda oleh harta, sebab engkau akan menyesal kalau ajal sudah datang seperti pada anakmu.itulah syarat saya,sanggup?”
        Meskipun masih merasa heran, kakek menyutujuinya.
        “insya allah nak!”
        Lalu anak itu pun bekarja.setiap tiba waktu zuhur, ia diantar pulang. Kata-kata si anak itu terngiang-ngiang di benak kakek.”diantar pulang ke rumah ...kuburkan ...ajal pada anakmu...”
        Suatu hari ketika anak itu diantar pulang, ia bertanya kepada kakek.
        “ apakah kakek masih ingat amanat dari saya ?”
        “ Insya allah, nak, “ jawab kakek.
        “ Terima kasih, kek ! tapi supaya kakek tak lupa, saya akan mengulanginya lagi.”
        “ silakan, nak !”
        “ pertama, kalau telah tiba waktu dzuhur saya minta diantarkan kerumah, kedua, kalau saya meninggal, kuburkan memakai kain kafan ini. Dan tolong sampaikan berlian bermata hijau yang ada disaku saya kepada raja harun ar-rasyid sekalian berpesan : hai raja harun ar-rasyid ! hati-hati jangan tergoda oleh harta, sebab engkau akan menyesal kalau ajal sudah datang seperti kepada anakmu.”
        Setelah selesai mengulangi persyaratan tersebut, ia membaca syahadat ” Asyahadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasululloh.” Kemudian ia menghembuskan nafas terakhir. . . . .
        “ Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un” kakek terkejut melihat adegan itu terjadi didepan matanya. Tetapi ia segera ingat dengan amanat anak tersebut. Setelah jenazahnya dikuburkan kakek bergegas menuju kekerajaan.
        Dikerajaan Harun ar-rasyid, sedang diadakan sayembara. “Siapa saja yang dapat menemukan anak raja yang bernama Al-madi akan diberi hadiah sebesar 1.000 dirham”
        Meski telah disayembarakan dan dicari ke mana-mana, anak itu tidak juga ditemukan, sehingga raja semakin berduka.
        Dari kejauhan tampak seorang kakek menuju pintu gerbang istana yang dijaga ketat oleh para hulubalang. Karena pintu gerbang istana dijaga ketat, ia harus meminta izin kepada hulubalang. Ternyata meminta izin untuk menemui raja sangat sulit. Kakek itu hampir putus asa dibuatnya. Syukurlah dia teringat bahwa kerajaan sedang mengadakan sayembara, maka diapun berkat :
        “ Tuan hulubalang, saya datang mau ikut sayembara, barangkali yag saya temukan adalah anak baginda raja”
        “Betulkan itu? Awas kalau bohong, saya tebas leher kamu!” kata hulubalang”.
        “Tunggu dulu disini ! saya akan memberitahukan raja.”
        Kemudian kakek yang menunggu diluar disuruh menghadap raja.
        “Engkau menemukan anak saya?” tanya raja harap-harap cemas.
        “Sebenarnya saya mau menyampaikan amanat dari seorang anak yang meninggal kemarin.”
        “Amanat apa?” tanya raja agak kecewa.
        “Dia menyuruh saya menyampaikan permata berlian hijau kepada baginda dan juga. . .”
        “Ini kan. . . .ini permata milik anak saya,” kata raja mulai gelisah.
        “Pesan anak itu begini baginda: “Hai raja Harun ar-rasyid hati-hati engkau jangan tergoda oleh harta, sebab engkau akan menyesal kalau ajal telah datang seperti kepada anakmu.”
        Mendengar pesan itu, raja menjadi sedih karena permata yang diperlihatkan oleh sang kakek adalah permata milik anaknya, Al-madi. Permata itu ia berikan untuk bekal selama mengembar.
        “Sebenarnya anak itu adalah anakku. Namanya Al-madi. Oh Al-madi maafkan ayahmu. Kau benar, harta hanya membuat lupa kepada allah. Permata yang ayah bekalkan untukmu, ternyata masih utuh. Betapa sederhananya hidupmu. Terima kasih atas pesanmu yang telah menyadarkan ayah. Terima kasih anakku hu. . .hu. . .”
        “ Kakek, karena engkau telah memelihara anakku maka engkau akan kuberi imbalan 1.000 dirham tiap bulan. Silakan datang kesini setiap bulan untuk mengambilnya.”
        “Terima kasih, baginda.”
        Raja Harun ar-rasyid setiap bulan berziarah kemakam Al-madi. Sedangkan kakek setiap bulan mengambil uang  1.000 dirham. Namun setelah berapa bulan dia tidak datang lagi mengambil uang imbalan itu. Karena dia menyadari kesederhanaan Al-madi sewaktu bekerja dirumahnya. Dia pun tidak mau disangka berbuat baik karena ingin mendapatkan imbalan. Akhirnya raja dan kakek itu beriman kepada Allah dengan iman yang sebenar-benarnya.


By : Irma Ayu F.

No comments:

Post a Comment

SEMOGA Manfaat ,Untuk Semua aminnnn.... eh..... ya 1 lagi Jangan Lupa Coment Ya.....hehehehehehe
salam master.........